Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2023

Nemen

 Hari ini di sekolah anakku sedang perpisahan kepala sekolah. Sampai rumah sebelum dia mencuci sepatunya dia cerita dengan sangat seru. "Bunda tahu nggak kalau tadi ada anak sekolahku yang bisa nyanyi Jawa. Bisa banget dengan lancar. Sampai semua orang tua dan guru di belakang pada rekam pakai hp." "Emang nyanyi apa?"  "Nggak tahu aku gak tahu dia nyanyi apa. Dia itu yang kemarin ambil rapot yang gendut itu bareng kita." "Masa?" "Iya. Aku aja sambil joget tahu bund, tapi di tempat duduk." "Em mang seru banget?" "Iya, Bund." "Coba siniin hp bunda." Nadjwa mengambil ponselku terus aku search 'NEMEN' di kanal Youtube. Sontak anakku langsung teriak. "Iya, itu Bund! Bener itu." Dia lalu happy banget dengerinya.

Hasil Mid Semester 1 Kelas 1

"Bunda udah bilang nggak papa." Anakku merebak, dia menangis tanpa suara  air matanya membanjiri pipinya.  Begitu masuk rumah, dadaku udah sesak. Aku mungkin kecewa dengan diriku sendiri. Aku merasa nggak maksimal dengan apa yang udah terjadi dengan anak-anakku. Aku pikir anakku akan menjadi yang pertama, tetapi nyatanya dia jauh dari yang pertama. Ini kali pertama anakku ujian di sekolahnya. Aku pun paham betul dengan itu. Masih ada waktu buat memperbaiki semua.  Akhirnya yang kulakukan adalah meninggalkan anakku di bawah dan masuk kamar.  "Yang, peluk," ucapku kepada suamiku.  "Kok udah pulang," tanyanya heran karena melihatku sudah ada di rumah.  "Udah." Aku hanya menjawab singkat. Aku udah hampir menangis di pelukan suamiku.  "Gimana, juara berapa dia?" Aku justru menangis. Air mataku luruh seketika. Aku nggak tahan lagi.  "Nggak dapat." Menurutku juara 6 bukan juara. Maksudku memang masih 10 besar, tapi nilainya bukan itu...

"Bang, Sate Dua Ribu."

Kemarin anak-anak minta sate, sejujurnya aku juga belum tahu harganya berapa, tapi pas mereka pulang kok cuma ada lontong. Katanya beli sate, tapi kok lontong disausin. Aku terheran dong. Pas datang, aku langsung keluar membelikan mereka lagi sate.  "Bang, sate. Berapa, Bang?" tanyaku dengan sopan. "Maribu dapat empat, Mbak." Yo alah aku kok baru paham. "Oalah, aku nggak tahu. Tadi anakku minta sate aku kasih enemribu, eh dia pulang bawa lontong doang." "Iya, Mbak. Kalau dua ribu emang lontong doang. Nggak pakai sate." "Oalah gitu." "Jadi, ini berapa, Mbak?" "15 rebu jadi 3 ya, Bang." "Oke." Begitulah anak-anak kalau minta uang buat beli sate, tapi yang datang malah lontong. Dalam hati kecilku kok ngenes men anakku. Padahal sejatinya aku nggak tahu harga-harganya. Sampai di rumah terus pada dimakan. The End. Aku nggak tahu kemarin ada kejadian apa, hari ini pun masih sama nggak ada yang benar-benar spesial....

Jebule

Sore ini panik, sumpah! Aku memegangi kepalaku yang rasanya muter-muter. Keringet bercucuran, sampai rasanya aku nggak kuat berdiri. Namun, aku berusaha meraih kabinet, kemudian mencari obat kuat di sana. Untungnya masih ada. Anak-anak entah main ke mana, aku sendirian di rumah.  Beberapa menit kemudian aku berbaring lagi. Melihat ponsel ada notifikasi dari suamiku.  Melihat berita, kepalaku semakin sakit. Harusnya sore ini aku masak dan segera siapkan makanan untuk anak-anak. Namun, kondisiku nggak memungkinkan. Wis cara gampang aku WA Mbak Ulfa untuk memintanya mengantar beberapa lauk dan nasi.  Pas datang sekitar Magrib. Aku masih baringan, anak-anak bersiap ke masjid. Nayang nangis, kemudian aku berusaha bangkit. Ndredeg itu apa ya gemeteran. Kakiku kayak melayang padahal masih nyentuh tanah.  Aku wis gemeteran, terus tak paksakne mangan, kan. Aku berpikir karena berantem karo bocah terus oleh berita koyok ngono aku mungkin lagi stress. Ternyata bar mangan, aku t...

Wake Up

 Aku bahkan tidak tahu apa yang hari ini terjadi. Semua sama aja kecuali anakku yang jam 6 pagi baru bangun. Aku yang selalu disiplin dan tepat waktu melihat itu justru membuat mood ku menjadi buruk. Bahkan saat olahraga aku mengeluhkan rasa kantukku kepada Mbak Ulfa.  Hari aku tidak memasak, aku hanya membeli beberapa sayur matang dan gorengan untuk sarapan. Bahkan hari ini aku sengaja tidak membuat susu dan menyiapkan sereal, karena moodku buruk aku membatalkan rencananku memberi uang jajan lebih karena hari ini market day.  Ya, beginilah jeleknya aku saat moodku sudah jelek dari pagi. Seharusnya aku bisa lebih baik, tetapi ternyata yang seperti ini sering terulang. Aku sungguh merasa bersalah kepada anakku, tetapi aku benar-benar ingin anakku disiplin.  Namun, saat aku jemput sepulang sekolah, dia benar-benar sudah happy. Dia juga menceritakan bagaimana market day hari ini. 26/9/2023

Mak, Rindu

Pagi ini sepulang olahraga pagi, aku mampir di warung pakde. Ya, kali ini warung Pakde yang berada di Jalan Mentari. Pagi ini suasanana ramai, banyak ibu-ibu yang datang untuk berbelanja juga. Aku sebenarnya nggak berniat mampir, tetapi Mbak Ulfa bilang kalau dia pengin rebus pisang, jadi dia mau mampir. Sebenarnya di tempat pakde ini hampir sama dengan warung sayur yang lain, bahkan kuantitasnya lebih sedikit dibanding warung ucok. Namun, sukanya aku di sini adalah sayuran yang dijual pakde itu bervariasi. Biasanya sayuran kampung (Jawa Tengah) dijual di sini. Mungkin karena pakde orang Purwodadi, jadi dia mengerti sayuran apa aja yang jadi dambaan orang kampung macam aku ini. Aku masuk ke dalam celingak celinguk mencari yang menarik. Ada daging, ikan, ayam, sayur mayur, jamur-jamuran, telur puyuh, dan banyak lagi. Ketika mengedarkan mataku, aku menemukan waluh. Ya, waluh yang mirip pumpkin, waluh yang di sini disebut labu parang. Aku langsung teringat dengan ibuku. Ibuku suka sekali ...

Seragam Lecek untuk Besok

 "Mbak Ayu, tolong ambil gosokan, ya. Terima kasih." Aku sudah mengirim sebuah pesan kemarin saat anak-anak pulang sekolah. Setelah cuci kering, aku memasukkan semua baju yang akan aku setrikakan dii laundry milik tetanggaku. Aku memang berlangganan semenjak dia membuka laundryan. Aku membayarnya setiap awal bulan untuk banyak kilo tertentu. Sudah mau malam sekarang, hanya saja tas laundryku masih nangkring di keranjangnya. Biasanya Mbak Ayu ini rajin ngambilin setiap pagi, tetapi entah mengapa hari ini dia tidak datang. Begitu juga beberapa hari lalu, padahal udah aku tunggu-tunggu.  ** Pagi ini aku dititipin uang arisan dari tetanggaku, dia emang sering begini. Memberiku uang arisan karena malas datang, kadang kalau orangnya tidak ada di rumah, ya dia belum bangun tidur. Jadi, tiap hari Minggu dia datang ke rumah untuk memberiku uang untuk diberikan ke bos arisan, yang kebetulan rumahnya ada di depanku, juga yang punya laundryan. "Bil!" seruku. "Ini, ya, uang...

Bojoku sing Ayu Dewe

 Hahaha. Hari Sabtu ini sepertinya Om Dedi sedang bahagia. Usut punya usut, sekarang tanggal tua, mungkin dia abis gajian. Lihat betapa bahagianya pagi ini, aku yakin  dia gajiannya tanggal 20 kemarin. Iya ini hanya ke-sok tahuan ku saja.  Kalau enggak, istrinya yang ada di Tegal sana mungkin lagi ngambek, pengin suaminya itu pulang jengukin dia dan anaknya yang usianya 2,5 tahun itu.  Sekarang sudah sekitar pukul 12.22, aku sedang gegoleran macam pengangguran, Mandorin anak-anak yang lagi makan sama teman-temannya di rumah. Sabtu, rumah ramai, Anak-anak sering bawa temannya datang buat baca buku atau sekedar buka-buka lihat gambar, kalau nggak ya tim ngobrak abrik rak buku.  Di luar juga lagi nggak begitu panas, cucian juga sudah dikeluarkan. Salat udah, gosokan, aman.  Pas begitu, aku dengar Om Dedi lagi teleponan sama istrinya.  "Bojoku sing ayu dewe!" Wis romantis tenan. Sak tanggane krungu kabeh. Atau mungkin aku saja tetangga yang julidun kurang ...

Rebon dan Mbak Sri

 Jadi, hari ini aku sedang bingung mau memsak apa? Saat belanja di Warung Ucok, aku ketemu dengan Mbak Sri mamanya Ana. Dia mau berangkat kerja.  Aku lihat ada rebon segar di sana, pengin makan itu tapi nggak tahu dia enaknya dimasak apa. Begitu Mbak Sri sedang ambil labu siam kecil, aku nanya ke dia. "Mbak Sri, mau berangkat, Mbak?" tanyaku berbasa-basi dulu. "Iya, Mbak Rin. Mau masak apa hari ini?" jawabnya sambil tetap memilih labu siam. "Bingung, Mbak. Hehe. Ana mana?" "Masih ngeluarin motor tadi." Aku masih lihat-lihat sayur yang belum juga menarik perhatianku. Lihat ikan juga nggak ada yang dipengin, cumi asin juga belum ada digantungan biasa. Mataku masih melihat rebon segar tadi. "Mbak Sri, ini rebon biasanya dimasak apa?" tanyaku. "Wah enak itu Mbak Rin. Dibuat peyek, kalau nggak dicabein Mbak Rin." Dicabein enak juga kayaknya.  "Peyek nggak bisa buat Mbak Sri." "Cabe bawang aja yang banyak, makannya sa...

Start this Day

 Sudah lama rasanya tidak menulis di sini. Sejak kapan, ya? 3 tahun lalu mungkin. Kayaknya hari ini aku akan mulai lagi diary bloggku yang udah reyot gak diurusin. Entah, apa yang jadi kesibukanku, tetapi akhir-akhir ini rasanya aku kurang bersyukur. Entah karena apa.  Doakan semogakan semua hal yang terjadi ini akan membaik. Terutama isi dompetku. Hehe.