Mak, Rindu
Pagi ini sepulang olahraga pagi, aku mampir di warung pakde. Ya, kali ini warung Pakde yang berada di Jalan Mentari. Pagi ini suasanana ramai, banyak ibu-ibu yang datang untuk berbelanja juga. Aku sebenarnya nggak berniat mampir, tetapi Mbak Ulfa bilang kalau dia pengin rebus pisang, jadi dia mau mampir.
Sebenarnya di tempat pakde ini hampir sama dengan warung sayur yang lain, bahkan kuantitasnya lebih sedikit dibanding warung ucok. Namun, sukanya aku di sini adalah sayuran yang dijual pakde itu bervariasi. Biasanya sayuran kampung (Jawa Tengah) dijual di sini. Mungkin karena pakde orang Purwodadi, jadi dia mengerti sayuran apa aja yang jadi dambaan orang kampung macam aku ini.
Aku masuk ke dalam celingak celinguk mencari yang menarik. Ada daging, ikan, ayam, sayur mayur, jamur-jamuran, telur puyuh, dan banyak lagi. Ketika mengedarkan mataku, aku menemukan waluh. Ya, waluh yang mirip pumpkin, waluh yang di sini disebut labu parang.
Aku langsung teringat dengan ibuku. Ibuku suka sekali labu, dia kalau panen sering sekali memasak ini. Selain dipakai untuk sayur bening, dia juga menggunakan labu parang untuk kolak. Iya, ibuku sering bikin kolak meskipun tidak Ramadan.
Aku mengambil satu slice yang memang sudah dibelah, gula jawa, dan santan. Aku sudah membayangkan bagaimana segarnya ini kalau sudah matang.
"Mau dikolak, Mbak?" tanya Mbak Ulfa saat aku mengumpulkan belanjaanku.
"Iya, Mbak. Mau tak kolak, siang panas. Biar seger tak masukin kulkas dulu, Mbak."
"Iyo, ya, Mbak. Aku juga pengin jadinya. Sampean mau pisangnya nggak, Mbak? Dicampur situ enak." Dia menyodorkan sesisir pisang untuk aku ambil beberapa, tetapi aku menolak.
"Aku nggak suka kolak pisang, Mbak. Asem perasaanku ki."
"Mosok, Mbak?"
"Iyo, mungkin aku nggak suka, jadi rasanya kayak asem gitu, Mbak."
"Oalah."
Aku membayar sejumlah uang untuk semua belanjaanku, selain labu parang aku juga membeli sayuran yang lain.
"Mbak, engko dilihatin Ucok nggak ini? Plastiknya bening lagi pakde ngasih." Mbak Ulfa mengacungkan belanjaannya.
"Nggak papa kali, Mbak. Wong dia nggak jual labu parang, kan?" Aku menenangkan sebisa mungkin.
Kami sering sekali pulang olahraga berburu belanjaan. Bukan hanya hari ini saja, hampir setiap pagi kalau nggak mampir bebelian sayuran, buah, ayam, ikan, jajan, lauk mateng, beras, telur, ya jajan gorengan yang kalau udah datang 15 menit ludes itu.
Rutinitas ini aku lakukan dengan Mbak Ulfa hampir 9 bulan penuh. Kami berharap sehat wal afiat meskipun badan kita size plus.
Sampai rumah, anakku udah siap pakai seragam dan sepatu. Dia hanya nunggu sarapannya dan kuncir rambutnya.
Aku memasak air untuk membuat susu, menyiapkan 3 mangkuk sereal untuk kembar+adiknya yang udah ikut turun juga. Mereka biasa sarapan sereal setiap pagi, selain praktis, juga anaknya nggak mau kalau sarapannya terlalu berat yang membuat dia kenyang dan mudah ngantuk.
Setelah selesai semua, aku mengantar anakku sekolah. Pulang dari sekolah aku langsung mencuci dan ngisi air di torennya Bil, tetanggaku yang kemarin aku ceritakan itu, dia udah kekeringan. Turun langsung masuk dapur dan membuat kolak labu parang kesukaan ibuku, untuk mengobati sedikit rindu.
"Mak, aku ngolak," bisikku sambil memasukkan semua ke dalam panci yang airnya sudah mendidih. "Semoga kalian semua sehat, ya." Aku terus membisikkan hal positif untuk orang tuaku, yang jelas mereka tidak dengar, hanya aku sendiri yang dengar.
Aku memang jarang sekali pulang, hanya saat lebaran itu pun sekarang tergantung berapa lama kakak liburnya.
Aku berharap orang tuaku, dan orang tua kalian yang masih ada semoga selalu sehat, ya.
Resep kolak labu parang yang sederhana dan enak
Bahan:
Labu parang seperempat
Gula merah 3 gelinding
Garam secukupnya
Air dalam panci
Santan instan
Langkah-langkah:
1. Rebus air sampai mendidih
2. Masukkan labu parang yang sudah dikupas dan dipotong
3. Masukkan gula dan garam
4. Masukkan santan
5. Hidangkan selagi hangat atau masukkan kulkas saat kolak sudah dingin, hidangkan dengan dingin
25/9/2023
Komentar
Posting Komentar