Tetangga
Semalam tetanggaku cerita tentang tetangganya. Aku yang lumayan dekat dengan si doi itu, dia bilang "temanmu itu lo mbak." Bingung. Dia cerita banyak tentang ini anu inu, sampai dari yang berdua, saat dia cerita udah jadi ber-7. Bingung kenapa dia sampai ngomong seperti itu. Misalkan dia ngomong, harusnya dia hanya cerita dengan aku. Berdua saja. Namun, saat itu aku pikir nggak etis kalau harus didengar banyak orang.
Si doi anu itu adalah orang batak dan jawa timur. Mereka termasuk suku yang keras, meskipun sebenarnya tidak seperti itu maksudnya. Aku mengerti sekali, sebagai suku jawa aku paham kalau itu mungkin kasar, tetapi buat mereka mungkin biasa aja.
Jujur aku nggak percaya kalau mereka main pukul, tapi dia bercerita dengan dramanya kalau ada hal yang tidak boleh dilakukan ternyata mereka lakukan. Dan harusnya itu nggak perlu. Aku mengerti maksudnya.
Ini pelajaran sekali untukku, aku nggak harus menceritakan apa yang aku lihat sehari-hari kep[ada orang lain. Sungguh Allah terlalu baik menutupi aibku. Jadi, aku nggak harus membuka aib orang lain di depan banyak orang, apalagi itu banyaknya adalah asumsi. Kita tidak sedang berada di tempat saat kejadian berlangsung. Aku akan belajar lebih bijak menyikapi semuanya. Doakan ya.
Rina
Komentar
Posting Komentar