A Memory

 Dear Aku, 


Ada satu alasan yang terkadang ketakutan itu lebih besar dari apa yang aku bayangkan. Akhir-akhir ini ketakutan itu muncul lagi. Entah karena aku masih terbayangkan akan hal itu atau sedang diri tidak baik-baik saja. 

Aku merasa masa lalu itu masih menempel kepadaku hingga saat ini atau justru makin membesar tumbuh hingga aku tidak melihatnya kecil. 

Saat 4 tahun 6 bulan yang lalu Naura tergeletak lemah di ranjang rumah sakit, kesakitan dengan kabel menmpel di mana-mana, aku masih tidak bisa berpikir saat itu, tapi tubuhku sangat kurus saat itu. Kesulitan keuangan, kesulitan makan, meninggalkan Nadjwa di rumah, lebaran pertama kami berempat berjauhan dengan kondisi Naura sangat buruk. 

Seolah makanan susah tertelan, tapi aku harus sehat. Berkali-kali teman-temanku menjenguk, tapi tetap keadaan Naura belum membaik juga. Bayi berusia hampir dua bulan itu masih tergeletak tak berdaya. 

Rindu terhadap anakku Nadjwa, rindu karena di di rumah juga sedang kesakitan. Bagaimana sebuah hal yang menyedihkan ini bisa menimpaku dan suami yang harusnya sangat bahagia karena aku mendapatkan dua anak sekaligus. 

Kami hanya saling menguatkan, menahan air mata yang harusnya kita lepaskan seluruhnya. Hanya sesak yang selalu mampir menghampiri setiap detik suara mesin saturasi berbunyi.

Saat dokter menyatakan bahwa dia bisa dibawa pulang, aku kira semunya akan membaik. Awalnya demikian, tapi sesuatu terjadi bertubi-tubi di sana. Aku? Hanya diam. Tidak berani mengatakan apa pun sampai sekarang meskipun itu kepada suamiku. 

Saat pulang ke rumah, kami bahkan krisis besar. Pekerjaan tidak ada, pemasukan hanya dari kontrakan saja. Bahkan setiap minggu Nadjwa harus ke rumah sakit untuk berobat. Rasanya .... 

Aku nggak akan menceritakan lebih di sini, hanya gambaran memori yang sampai sekarang masih terbayang. Pulang kampung sudah tak semenyenangkan dulu. Begitulah ....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makna kecewa dengan diri sendiri