Panik
Empat tahun lalu aku memang melakukan kesalahan. Terlambat membawa anak-anak ke dokter yang menyebabkan aku hampir kehilangan dia.
Kemarin sekitar empat hari yang lalu aku hampir melakukan lagi. Aku dan suami memang sedikit takut dengan kondisi di luar sana. Isu Corona yang sampai saat ini belum juga mereda membuat kami takut membawa ke dokter.
Akhirnya saat aku sudah tidak kuat lagi untuk diam, sebelum suami pulang aku membereskan rumah, menyiapkan baju ganti di dalam tas, dan keperluan mendesak seperti kartu BPJS dan KK. Namun, saat suami pulang dia menolak membawa semua keperluan yang aku siapkan.
Memang benar, saking takutnya aku bahkan menyiapkan ini kalau-kalau anak-anak opname di rumah sakit. Demam yang sudah dua har bahkan turun pun tidak membuatku sangat ketakutan saat itu. Aku bahkan terus menangis karena merasa aku salah dan tidak berguna. Aku bahkan menangis ketakutan kalau mereka akan kenapa-kenapa.
Bukan insting seorang Ibu, melainkan ini adalah sebuah trauma yang ternyata belum menghilang selama ini. Aku mengaku bahwa terkadang aku keras ke anak-anak memang bukan semata karena aku adalah ibunya, tapi lebih ke takut kalau mereka akan sakit, jatuh, menangis, atau tidak senang. Aku masih merasa bersalah karena waktu itu terlambat membawanya ke dokter.
Sore sebelum aku dan suami membawa ke dokter, dengan lap untuk kompres aku mengaku semua kepada mereka. Aku meminta maaf kepada anak-anakku atas apa yang aku lakukan. Aku benar-benar tidak mau mereka kesakitan, aku benar-benar berusaha untuk yang terbaik untuk mereka.
Kejadian masa lalu itu aku yakin tidak bisa langsung hilang, mungkin traumaku masih mengutukku menjadi seperti ini.
Ada satu hal yang ingin aku katakan jika suatu saat nanti tulisan ini akan ditemukan. Aku mencintai mereka; anak-anakku, pun suamiku. Aku ingin memberikan cintaku lebih besar, lebih banyak, berharap mereka akan melakukan hal yang sama. Walaupun mungkin caraku mencintai berbeda.
Komentar
Posting Komentar