at Malam

 Hai, Sayang.

Di luar sedang hujan. Aku duduk sendiri di meja kerja dengan satu buku baru yang belum sempat kulepas sampul plastiknya. 

Aku rindu, sampai rasanya napasku sesak. Aku ingin bertemu di sendu malam yang membuatku betah lama-lama mengingatmu.

Hati-hati. Di luar licin, kemudimu juga harus kau pegang kuat. Kapan pulang, Sayang? Malam ini kamu akan memasuki usia baru. Usia yang sesungguhnya banyak hal yang membuatmu khawatir, bimbang, takut, dan kecemasanmu karena banyak dari targetmu belum juga tercapai. 

Berakli aku mengatakan, bahwa nggak semua hal terjadi sesuai rencana. Terkadang semesta memang meminta kita untuk lebih dekat dengan sang Maha Agung, menyuruh kita berlama-lama mengingatnya, menyuruh kita memantaskan diri untuk mendapatkan apa yang ingin kita dapatkan.

Aku tahu, ini terdengar omong kosong. Lagi pula bukan karena kamu mendapatkan banyak hal itu, aku lebih mencintaimu karena itu adalah kamu. Kamu yang sepaket dengan apa yang kamu miliki. Kamu dengan banyak kemakluman yang kamu berikan kepadaku selama ini. 

Sepertinya aku yang kurang tahu diri. Terkadang masih mengeluh dengan semua kemudahan yang Tuhan berikan, masih menggerutu karena sikap cuek kamu yang kadang tak tertahankan, padahal aku bahkan lebih buruk dari kamu. Banyak kemakluman yang kamu berikan. Kebebasan yang benar-benar aku syukuri. Mulai mengizinkanku menulis, membuat event, dan banyak hal yang justru kamu nggak paham apa yang sedang aku kerjakan. 

Terima kasih sudah menjadi kamu yang luar biasa untukku. Menjadi kamu yang begitu hebat di mataku. Menjadi kamu yang sangat baik memperlakukanku dan anak-anak. 

Sehat selalu, Sayang. Aku mendoakan kesuksesanmu, aku mendoakan keberuntunganmu, aku mendoakan semua target yang ingin kamu capai bisa segera terealisasikan. 

Aku mencintaimu. 


Rina Setyaningsih

10 Oktober 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makna kecewa dengan diri sendiri