Yang diterima kadang lebih banyak dari yang diberi

 Pagi ini, sebelum ke bawah seperti biasa saya mencari suami. Dia yang sudah bangun terlebih dulu akan bermain hp dengan earphone di telinganya. Aku ke atas tiduran di lengannya rasanya lebih menyenangkan dan mendebarkan. 

Tentu saja, walaupun sudah tujuh tahun pernikahan aku tetap merasakan itu dengan suamiku yang baru lima tahun efektif tinggal serumah. 

Aku menerawang langit-langit sambil membayangkan banyak hal di pikiranku. 

"Yang, kalau suatu saat nanti aku punya penerbitan sendiri gimana?" tanyaku pagi ini. 

"Ya, terserah kamu. Aku kan sudah bilang, cari kesenanganmu, nikmatin apa yang kamu lakukan sekarang, kalau itu membuatmu bahagia lakukan saja. Bersenang-senang saja dengan apa yang kamu lakukan itu." Begitu kira-kira jawabannya.

"Aku nggak main-main, ya."

"Ya, kalau itu buat kamu senang, aku tidak akan melarang."

"Tapi apa mungkin aku bisa?"

"Lakukan saja yang terbaik saat ini. Nanti kalau dirasa kamu mampu, suatu saat nanti kamu bakal nemu jalannya sendiri."

"Benarkah?"

"Jangan terlalu banyak berekspektasi, pantaskan dirimu dulu."

"Cium jangan?" Dia terkekeh sambil mendaratkan kecupannya di keningku.

Saat seperti ini, aku merasa sangat bahagia. Seolah duniaku sudah ada pada dia. Entah kami sedang menemui kesulitan apa, yang jelas aku bahagia dengan obrolan singkat seperti itu.

Sampai tua, ya. Sampai surga.


   Love,

Rina Setyaningsih

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makna kecewa dengan diri sendiri