Buku dan Kenangan

Saat bertemu dengan seseorang untuk pertama kalinya adalah kesan. 

Kesan apa yang mereka berikan untuk pertemuan pertama? Aku adalah salah satu yang sangat  memperhatikan ini dalam suatu hubungan kenalan. Please, aku benar-benar merasa tidak percaya kepada yang namanya sahabat atau teman dekat. 

So, aku kemarin ikut suami pergi ke rumah salah satu kenalan dia yang dia sebut 'teman' but no problem, I thing jika aku tidak masuk terlalu dalam ke dunia mereka nggak ada yang bikin aku nggak percaya. 

What ever kalian akan mengatakan aku apa? Karena memang, aku adalah tipe orang yang seperti itu. Jika terlalu dekat dengan mereka, aku akan mengulitinya. Sedikit saja mereka membuatku kecewa, aku tidak akan percaya lagi sama dia. 

Ini adalah aku, bukan suami.

Jangan samakan, please. 

Oke, pernah suatu waktu seseorang yang dekat sekali di sini membuat hatiku tersentil. Aku dan suami babak belur karena hal itu sampai tiga bulan dungu. Akhirnya aku merasa bahwa mereka tidak benar-benar ingin berteman. Sorry, untuk perasaan berlebihan ini. Entah ini naluri ke luar sendiri.

Back to topic, menurutku seorang istri harus benar-benar menyembunyikan aib suami. Apa pun keadaan dia. 

Laki-laki sejujurnya menjunjung harga diri mereka tinggi-tinggi. Jika ada yang meremehkan atau menyepelekan yang ia kerjakan, harga dirinya akan terluka. 

Nah, kemarin seorang kenalan memberi saya tiga buku milik almarhum suaminya. Bersama buku itu, ia menceritakan tentang kisahnya dengan almarhum suami di depan suaminya sekarang. Entah ini baik atau tidak, tetapi aku merasa kurang nyaman dengan hal itu. 

Loh, why?

Entahlah, aku bermain dengan naluri. Wkkekek


Love, 

Rina Setyaningsih

30 Agustus 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makna kecewa dengan diri sendiri